Uncategorized

Tsunami Informasi

Akhir-akhir ini disosial media lagi populer istilah “Kids Jaman Now“. “Kids Jaman Now” sebutan ini merupakan penggabungan kata bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang dapat diartikan sebagai “kelakuan anak jaman sekarang”. Kita lahir di jaman teknologi yang sudah berkembang. handphone sudah menjadi kebutuhan yang mungkin tidak bisa lepas dari genggaman tangan, internet juga sudah menjadi kebutuhan pokok dimana kita tidak bisa lepas dengan koneksi internet. Follower dan like menjadi tolak ukur eksistensi seseorang. #hastagini #hastagitu tak kalah ketinggalan. Mau makan foto dulu, sakit diinfus foto dulu, terus diupload biar kekinian katanya.

Gadget, internet, smartphone, dan segala kemajuan teknologi memang terbukti memberikan kemudahan. Saya sendiri merasakan dan menikmati segala kemudahan berbasis teknologi. Mau apa jadi mudah, mulai dari belanja, pesan makan, pesan tiket kereta, pesan tiket pesawat, booking hotel, sampai pesan taksi bisa dilakukan dengan sentuhan.

Kemudahan dalam mengakses informasi tersebut terkadang menyebabkan kita  tertimpa banyak informasi yang tidak semuanya kita butuhkan. Kita sebut saja fenomena ini dengan “Tsunami Informasi”. Istilah Tsunami digunakan untuk mengungkapkan betapa dahsyatnya kekuatan gelombang tsunami yang mampu menghanyutkan semua benda yang dilewatinya serta kedatangannya yang tiba tiba sekejap kilat. Arus informasi yang begitu deras dari berbagai sumber terkadang menyebabkan kita menjadi kurang fokus terhadap beberapa hal. Ilmu yang berseliweran di smartphone, gadget kita terkadang datang dengan silih berganti dan seketika juga dapat hilang begitu saja jika kita tidak mengelolanya dengan baik. Saya sendiri untuk whatsapp grup ada >20 chat grup yang berasal dari sekitar 10 jenis komunitas berbeda dan hampir semuanya aktif bercuap cuap . Bisa dibayangkan betapa crowdednya informasi yang masuk ke ‘genggaman’ setiap harinya. 

Untuk itu, kita perlu melakukan sebuah filterisasi pada setiap informasi yang masuk dengan cara mengklasifikasikan mana informasi yang bermanfaat untuk diri kita, dan mana yang “junk information”. Setelah mengklasifikasikan, hal yang perlu dilakukan adalah menyimpan informasi tersebut pada tempat yang mudah diakses. Jika di aplikasi whatsapp ada pilihan starred message, beri bintang pada postingan yang menurut anda penting dan dibutuhkan sewaktu waktu. Namun, itu saja tidaklah cukup, karena jika kita membintangi artikel dari sekian banyak grup, lama kelamaan juga akan menumpuk dan tak lagi efektif dalam mencarinya. Ada informasi yang bisa lebih bermanfaat jika kita share ke ranah publik yang lebih luas. Salah satu caranya yaitu dengan menulis di blog. 

Selama kurang lebih setahun kedepan, saya akan menjalani perkuliahan online dari INSTITUT IBU PROFESIONAL. Akan banyak sekali ilmu bermanfaat yang akan diperoleh dan sebagaimana perkuliahan pada umumnya, akan banyak tugas yang diberikan kepada para siswanya. di blog ini pulalah akan saya share semua tugas dan materi yang diberikan oleh IIP. So, it will be my lovely diary book .

Gak mau kalah dengan Kids Jaman Now, saya akan mencoba untuk eksis di dunia maya dengan mengedepankan informasi yang semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca. Lets be Mom jaman Now. Hwihi

post

#kidsjamannow #marimenulis #tsunamiinformasi

referensi : kompasiana “Maraknya kids zaman now”

bundasayang, Ibu Profesional, melatih kemandirian

Menaruh baju kotor

Salah satu kebiasaan balita umur 1 tahun adalah suka memindahkan barang barang dari satu tempat ke tempat lain. Nah, untuk memanfaatkannya, saya biasa mengajarkan bita untuk menaruh baju kotornya ke ember baju kotor jika hendak mandi. Alhamdulillah ia mulai terbiasa dengan kegiatan ini, meskipun untuk saat ini masih harus disuruh dahulu. 

bundasayang, Ibu Profesional, iIP, melatih kemandirian

E2

Huah.. sudah 3 hari ini saya tak sanggup menahan mata untuk ga ikut tidur saat ngelonin bita. Alhasil lupa ngeposting game level 2 ini, padahal sudah mewanti wanti agar bisa posting sore’an dikit. Baiklah, mungkin harus ganti strategi waktu untuk ngereport. Anakku hari ini mampu mengucapkan kata “nda, ee, dah” maksutnya, “bunda, aku e’enya sudah”. Ini pertama kalinya ia mampu mengatakan pada bundanya kalau ia sudah selesai ‘ngeden’, dan sehabis itu saya menyuruhnya cebok. Seketika itu ia langsung berjalan sendiri ke kamar mandi. Meski belum bisa toilet training, setidaknya ia sudah memberikan tanda jika pup. 

bundasayang, iIP, melatih kemandirian

What a busy day

Hari ini adalah libur kedua setelah kemarin, jumat ayah bita dirumah seharian. Entah karena ada ayahnya sehingga ia antusias bermain, bita jadi susah sekali diajak tidur. Hal ini tidak begitu saya permasalahkan, tapi yang mengkhawatirkan adalah ia jadi tidak terlalu berselera makan. Padahal, ia tidak sedang sakit, giginya pun tidak ada tanda ingin muncul baru. Setiap kali disuapi makan, baru 2 suapan selanjutnya langsung dilepeh. Bingung dibuatnya, makanan apa saja saya coba sodorkan terus asal dia mau makan. Meskipun begitu, ia masih tetap ceria seperti biasanya. 

Hari ini saya sekeluarga berlibur ke karawang dan besok lanjut ke bandung. Agenda seharian ini cukup padat, sehingga saya tidak seintens biasanya dalam menemani bita bermain. Dari pagi hari, bita sudah diajak ngaji bersama saya, siang hari ia istirahat dirumah, dan sorenya kami berangkat ke karawang. Disela sela kesibukan, saya memikirkan akan mengajarkan apa ke bita hari ini. Sampai detik ini saat saya menulis, saya mencoba flashbaack apa yaa yang sudah saya ajarkan ke bita hari ini. Terlepas dari kelupaan dan kehektikannya, tadi siang saat dipengajian saya kembali mendengar bita mengucap kata “tutu..” sembari menutup toples snack kami. Oh iyaa ditutup yaa.. balasku. Bita memang paling suka menutup segala sesuatu yang terbuka. 

bundasayang, Ibu Profesional, iIP, melatih kemandirian

Num..

Seperti yang saya posting kemarin, tentang belajar kemandirian anak, dalam sepekan ini saya ingin menambah kosakata yang bisa diucapkan oleh bita. Saya meyakini bahwa bayi/balita adalah makhluk tercerdas di bumi ini, hehe. Kenapa? Karena dalam waktu singkat, mereka bisa melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan dan belum pernah ada dalam seumur hidup mereka (berasa udah lama aja). Saya percaya, apapun yang kita sebagai orangtua ajarkan kepada anak, akan terekam dalam memorinya dan suatu saat akan dapat dikuasainya dengan mudah dan cepat. Tinggal bagaimana kita rajin rajin mengajarkan dan menstimulus anak tersebut. Mungkin kalau sekarang rasanya pegal dan bosan sekali mulut ini mengucapkan kata kata yang sama berulang ulang di aktivitas sehari hari tapi jarang yang dapat diikuti oleh anak. Tapi, dari binar mata nya, kita tahu bahwasanya si anak sedang melakukan proses recording di otak dan menggerakkan seluruh sistem sarafnya untuk bisa mengutarakan apa yang diucapkan oleh ibunya. 

Seperti hari ini, sebenarnya target saya pekan pertama ini adalah melatih bita untuk bisa mengucapkan kata “duduk” yang kemarin sempat ia lontarkan. Namun, sepertinya ia sedang tidak mau mengulangi kata itu, meskipun sudah saya ulang ulang kata itu sambil mempraktekan  gerakan duduk kepadanya. Semakin saya mengeja kata duduk, ia hanya terdiam memandangi saya seraya tersenyum. Ahhh,, bita, bunda tahu kamu mengerti hanya saja kamu lagi ga mau ngomong itu yaa 😀

Akan tetapi, hari ini saya mendapatkan kata baru darinya. Sebagaimana aktivitas sehari hari yang selalu saya ejakan kepadanya, termasuk ketika minum, saya menyebutnya berulang ulang sebelum memberikan segelas air kepadanya. Dan tadi sore, saya mendengar bita mengucap kata “..num”. Yeayy, senang sekali mamak mendengarnya nak. Begitu bahagianya ya mendengar kata sederhana yang keluar dari lisan anak kita. 

Foto : PR banget ngajarin anak makan sendiri. 

bundasayang, Ibu Profesional, iIP, melatih kemandirian

Belajar kata

Selama sepekan ini, saya berencana untuk nambahin kosakata baru buat bita (15,5 bulan). Dari 30 november sampai 6 desember, minimal ada 1 kosakata yang bisa dikuasai bita dan dia bisa paham maknanya. 

Weekend kemarin bita nginep 3 hari di rumah uti nya (ibu saya) di cilandak. Selama disana, bita sering mendengar utinya berkomunikasi dengan menggunakan akhiran “iyak?”. Waktu bersiap siap untuk kembali ke depok, utinya mengajak bita ngobrol dengan statement pertanyaan yang berakhiran “yak” , dan lucunya si bita merespon dengan membalas “iyak” lalu ia tertawa karena lucu sendiri mendengarnya, meskipun dia belum tahu apa maksud perkataan utinya. 

Tadi sore, saat membersamainya bermain di dalam rumah (sudah beberapa hari ga keluar rumah karena hujan) saya menyuruhnya untuk membereskan mainan mainannya dan memasukkannya kedalam container penyimpanan. Ia sudah paham jika saya suruh untuk membereskan mainan (kayu edukasi). Selesai memasukkan semua mainan, saya menyuruhnya untuk menutup boxnya. “Sudah.. tutup”, seketika ia berucap “tutu….” wahhhh, karena senang pertama kali mendengar ia bisa mengucapkan kata tutup, saya mengulangi kata “iya.. tutup”. Ia pun mengulanginya juga. 

Selama ini, saya selalu mengulang ulang perintah yang sering dilakukan sehari hari, misalnya kata : tutup, ambil baju, ambil tisyu, mamam, nyalakan kipas, taro baju kotor diember, duduk, tolong ambil baju ayah, sendalnya mana, dan kata kata lainnya. Sejauh ini dia sudah paham dari semua perintah itu dan melaksanakan semua perintah tersebut, hanya saja dia belum bisa mengucapkannya sendiri. 

Untuk itu, tantangan kali ini adalah dengan membuat ia mampu mengucapkan minimal 1 dari kata kata yang sering didengarnya tersebut. 

Komunikasi Produktif

Fastabiqul Khairat (part 2)

Hari ini paksu pulang lebih cepat dari kemarin. Senang rasanya ya kalau ditemani suami dirumah dan bisa bercengkrama lebih lama. Dan, tak seperti biasanya, jam segini (saat saya menulis sekitar pukul 22.00) paksu sudah tidur lelap. Padahal biasanya, dialah yang mematikan tv ditengah malam kalau saya ketiduran sambil ngelonin sikecil. Mungkin ini efek bangun pagi yang dilakukannya tadi pagi. 

Sudah sekitar 4 bulan saya absen dari ngaji pekanan >__<. Perasaan bersalah dan malu pada diri sendiri bikin ga tenang dan gelisah tiap pekan. Selama itu pula, saya merasa telah terjadi futur iman dihati. Biasanya, kalau tiap pekan ngaji bisa mengobati segala penyakit hati seperti cinta dunia dan lupa akhirat, saat saya tidak ngaji jadi tidak ada yang mengingatkan. Walhasil, orientasi diri menjadi sering menyimpang dari Ridha Allah. Kemarin, saya melihat akun ig para ulama negeri ini. Dari situ, rasanya hati ini kembali diguyur air sejuk setelah sekian lama kering kerontang. Saya harus berubah. Seketika itu terbersit niat dari dalam hati untuk memperbaiki kualitas hidup dengan mengacu pada ridha illahi. Pagi ini, saya membangunkan suami dan menyuruhnya untuk shalat subuh berjama’ah dimasjid. Hal yang jarang – jarang saya lakukan setelah menikah dengannya. Rasanya sangat menyesal baru melakukan hal ini sekarang. Mengingat, saya juga sering bangun setelah adzhan subuh berlalu beberapa menit. Mulai beberapa hari kebelakang, saya inging menjadikan rumah tangga ini menjadi rumah tangga surgawi yang didalamnya diisi dengan saling mengingatkan dalam beramal dan menasihati dalam kebenaran. Karena kembali lagi ke niat awal pernikahan, berfastabiqul khairat bersama suami untuk menggapai ridhaNya. 

Sepulang bekerja tadi, suami kembali menanyakan kepastian aktivitas mengaji saya. Memang saya masih menjalin komunikasi dengan guru ngaji, namun karena tiap weekend ada saja kegiatan yang sulit untuk ditinggalkan, sehingga saya selalu tidak bisa hadir di majelis ilmu. Suami memberikan saran agar dikomunikasikan dengan guru ngaji saya, jika memang saya tidak sanggup untuk hadir di pekanan yang jadwalnya tiap sabtu, ia meminta saya untuk mencari kelompok lain yang memfasilitasi majelis ilmu di weekday. Yang jelas, harus ada kepastian agar saya tidak lepas dari lingkaran kebaikan. Selain itu, ia mengingatkan kembali betapa senangnya ia dengan kegiatan saya dulu saat mengisi pengajian adik adik di kampus. Saya juga sedikit curhat pada suami tentang betapa kesepiannya saya karena semenjak saya pindah kelompok ngaji dengan yang sekarang dan ditambah ‘bolos’ beberapa bulan ini, seolah saya terlepas dari semua lingkungan pergaulan yang biasanya saya geluti. Mulai dari teman teman ngaji di kelompok sebelumnya, dengan lingkungan jama’ah di daerah jakarta (sebelum saya pindah ke depok), lalu dengan adik adik di kampus yang dahulu menjadi murid ngaji saya,  teman teman kantor  dan terakhir dengan teman teman tahsin. Dulu rasanya saya memiliki banyak sekali aktivitas dan lingkungan pergaulan yang menyenangkan . Sekarang, saya merasa lingkungan pergaulan saya sangatlah terbatas, mungkin bisa dibilang hanya ditetangga sekitar rumah. Itu yang terkadang membuat saya bosan di rumah dan ingin mengisi tiap weekend nya dengan pergi dari rumah. 

Nasihat dari paksu menjadi lecutan bagi diri untuk kembali mencharge semangat dalam menjaga kualitas hidup dalam keberkahan dan kebermanfaatan yang besar. Alhamdulillah diberikan rizki suami yang bisa mengingatkan dalam hal kebaikan. Seperti firman Nya dalam surat Al ashr : 

1. Demi massa 

2. Sesungguhnya manusia itu benar – banar berada dalam kerugian 

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. 

Komunikasi Produktif

Penerimaan Pertamina

Beberapa waktu kebelakang, suami saya memang sangaaat sibuk. Bisa dibilang hampir tiap hari ia berangkat pagi pulang malam (hingga pukul 21.00) . Padahal sebelumnya tidak sepadat itu jadwalnya. Saya merasa hampir tidak memiliki waktu santai yang bisa dihabiskan bersama tanpa ada gangguan pekerjaan atau hal lainnya. Memang disamping traffic order pekerjaan yang masuk sedang lumayan tinggi, ia juga disibukkan dengan persiapan tes masuk CPNS dan Pertamina. 

Ya, suami saya mencoba peruntungannya di dua bidang lapangan kerja yang memiliki prospek baik kedepannya. Bukan berarti ditempat kerjanya sekarang tidak baik, namun tampaknya tidak bisa selamanya paksu bekerja pada posisinya sekarang. Kembali pada topik tes masuk pertamina dan CPNS. Senin dan selasa hari ini ia mengikuti tes lanjutan CPNS. Tes nya diadakan di 2 tempat berbeda tiap harinya. Sedangkan untuk tes pertamina, tesnya diadakan secara online. Tahap pertama ia bisa lalui dengan lancar dan lolos. Tahap kedua, ia mengalami hambatan yang significant. Jika tes pertama ia kerjakan sebelum subuh, di tes kedua ini paksu terlambat bangun pagi sehingga ia mengerjakan tes nya malam sepulang kerja. Mungkin, di waktu tersebut lah orang orang juga sedang mengakses link webnya, sehingga ada sedikit gangguan pada saat mengerjakannya. Belum selesai ia mengerjakan semua soal, di sesi terakhir soal nya tidak bis diakses (loadingnya lama sekali). Hingga ia 4x log in, dan batas terakhir log in hanya 5x jika lebih maka akan di diskualifikasi. Beberapa menit ia tunggu berharap sistemnya kembali stabil, namun hingga detik detik menjelang akhir waktu, web nya tidak juga menampakkan tanda tanda kembali normal. Pasrah, akhirnya ia tidak bisa menyelesaikan soal hingga sesi terakhirnya. 

Sebenarnya, ada sebuah rahasia besar yang sangat mengganjal hati saya kalau paksu diterima di PT. Pertamina. Ini adalah sebuah aib dan kecurangan bagi saya, jadi tidak usah saya ceritakan disini. Saat itu, saya terngiang ngiang oleh slogan dari IIP, “rezeki itu pasti, kemuliaan harus dicari “. Saya merasa rezeki yang berkah adalah yang proses mendapatkannya dilakukan dengan benar tanpa ada kebohongan didalamnya. Suami meminta saya mendoakan yang terbaik untuk hasilnya. Jujur, saya berharap agar suami tidak diterima di pertamina. Karena ada hal rahasia yang tidak mencerminkan kemuliaan didalamnya. 

Hari ini, pertamina telah meng email kan pengumuman hasil seleksi. Suami saya belum rezeki bekerja di pertamina. Alhamdulillah, saya merasa tenang mengetahuinya. Saya penasaran dengan perasaan suami saya dengan hasil ini. Saya bertanya dari hati ke hati dengannya, apa perasaanya setelah apa yang sudah ia lalui selama ini. Ia mengatakan hal yang juga mengiyakan perasaan saya, bahwasanya ia juga setengah hati dalam menjalani tes ini. Karena ia tidak ingin jika keterima nantinya, ia harus jauh dari keluarga. Dan, alhamdulillah saya senang mendengarnya, ia tidak ingin mengorbankan keluarga demi pekerjaan yang menjanjikan. 

#hari6 #gamelevel1 #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif

Ikutan CPNS

Tahun ini dibuka pendaftaran CPNS berbagai bidang. Suami saya mencoba daftar ke PU bidang jalan dan jembatan. Alhamdulillah tes kemampuan dasar kemarin lolos setelah perjuangan yang amat melelahkan (serius) karena adanya kerusakan sebagian besar komputer yang akan dipakai untuk tes, sehingga jadwalnya molor. Suami saya seharusnya tes mulai pukul 16.00 dan baru masuk tes pukul 01.00 dini hari. Tapi semua itu terbayar setelah hasilnya ia lolos ke tes selanjutnya. Pagi ini ia menjalani tes lanjutan yaitu tes kemampuan bidang (TKB) di cililitan. 

Siang hari ia sudah pulang, alhamdulillah tesnya berjalan lancar. Sambil istirahat sejenak sebelum kembali kerja kekantor, kami sempat berbincang ringan. Ia curhat tentang betapa sulit soal tes yang barusan dikerjakannya. Ia mendapat nilai rendah di tes kali ini. Wajar saja, karena dari kemarin belum sempat belajar dan memang belum menemukan kisi kisi soalnya. Meski begitu, saya tetap memberikan semangat untuknya agar tetap optimis apapun hasilnya. Besok, ada tes terakhir yang harus ia ikuti. Ia meminta bantuan agar bisa berangkat pagi, karena tes akan dilaksanakan pukul 08.00 pagi. 

Saya turut bersemangat untuk menjalani episode ini, semua ikhtiar yang kami lakukan, kami niatkan untuk kebaikan dunia dan akhirat. Apapun hasilnya, kami yakin itulah jalan terbaik dari Allah. 
#hari5 #gamelevel1 #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif

Fastabiqul Khairat

Kamis pekan kemarin adalah hari terakhir saya belajar tahsin di Lembaga Bisa Learning Centre (BLC) depok karena selama 6 bulan kebelakang 3 level tahsin telah dilalui dengan baik . Dari tahsin 1 hingga 3, banyak ilmu tentang cara membaca al qur’an yang baik dan benar yang membuat saya lebih baik dalam bertilawah. Meski begitu, bukan berarti bacaan qur’an saya sudah bagus, karena teori harus dibarengi dengan latihan yang terus menerus agar menjadi sempurna. Setelah tahsin selesai, berarti saya sudah tidak punya kegiatan diluar kegiatan membersamai anak yang mengharuskan keluar rumah. 

Selain program tahsin, di BLC tersebut ada juga program tahfidz, bahasa arab serta tarbiyatul aulad. Beberapa teman tahsin saya melanjutkan ke program bahasa arab dan mengajak saya untuk ikut serta. Sebagaimana biasanya, untuk mengambil keputusan ini saya harus berdiskusi dengan paksu terlebih dahulu, mengingat kegiatan ini juga membutuhkan iuran perbulannya. Kita mendiskusikan tentang pentingnya belajar agama (dalam hal ini saya ingin lanjut belajar bahasa arab, dan paksu ingin tahsin juga). Namun, dengan keterbatasan dana, kita harus memilih salah satu dari keinginan mana yang dilanjutkan. Tanpa mementingkan ego pribadi, saya melihat prioritas kepada kebutuhan suami untuk belajar tahsin yang harus diutamakan, karena berimbas langsung pada bacaan qur’annya. Akhirnya, kamipun sepakat untuk melanjutkan program tahsin 1 kepada paksu dan mencari jadwal yang pas untuknya. Alhamdulillah kami akhirnya ketuk palu saat siang hari selepas makan siang. 

——————————○★○——————————
#hari4 #gamelevel1  #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

Uncategorized

Pedagang Kesiangan

Minggu pagi kemarin, rencananya saya ingin berjualan di pasar kaget yang diadakan di sepanjang jalan kota kembang GDC. Saya menjual baju pakaian preloved atau pakaian second yang masih layak pakai dengan harga yang murah meriah. Dari malam hari, sudah persiapan menyortir pakaian berdasarkan harga dan memasukkannya kedalam container besar. Ini adalah pengalaman kali kedua bagi saya. Sebelumnya saya pernah 1x berjualan di sana saat menjelang ramadhan kemarin, dengan menjajakkan baju koko tenun dan ada baju prelovednya juga. Namun, koko tenun belum berjodoh dengan pembelinya, si pakaian preloved justru laris manis diburu para pembeli. Melihat selera pasar seperti itu, maka saya berinisiatif untuk mengumpulkan pakaian dari rumah ibu saya di cilandak untuk menambah jumlah barang dagangan.

Saat minggu tiba, sedari pagi sudah bersiap siap mulai dari menyuapi si kecil, menjemur cucian yang sudah saya cuci sejak malam hari, mandi, sarapan dan lain sebagainya. Waktupun berjalan cepat. Tak terasa sudah pukul 07.30, dan saya beserts anak dan suamipun bergegas naik mobil dan berangkat. Ternyata di jalan boulevard GDC, jalur yang akan kami lewati sedang berlangsung gerak jalan dan kamipun terjebak. Mobil berjalan sangat lambat mengikuti ratusan orang yang berjalan santai. 

Setelah beberapa saat lamanya kami ikut gerak jalan, sampailah pada area pasar kaget. Setibanya disana, kami berkeliling mencari lahan kosong untuk menggelar lapak. Tempat yang pernah kami jadikan spot berjualan kini sudah tidak dibolehkan untuk dipakai, sehingga kami harus m3ncari tempat lain. Satu putaran sudah kami lalui, semua lahan telah terisi padat oleh para penjual beraneka ragam. 

Akhirnya, kami parkir mobil di pinggir jalan dan memutuskan untuk mengitari pasar dengan berjalan kaki untuk mencari lapak. Fix sudah tidak ada lagi lahan kosong. Kami kembali kedalam mobil dan berdiskusi. “Seharusnya kita belajar dari pengalaman bund, dulu kita juga berangkat kesiangan, beruntung masih ada lahan parkir yang bisa dijadikan lapak. Sekarang, sudah tidak ada lagi yang tersisa, seharusnya kita berangkat dari subuh.” Kata paksu. 

Tidak jadi berjualan, saya dan suami malah ngobrol didalam mobil dengan asyiknya. Sambil menyuapi bita, saya mengungkapkan ingin memiliki sebuah produk karya sendiri untuk dijual. Pasca mengikuti KSN 2017 kemarin, saya memang makin bersemangat untuk menjadi entrepreneur sukses. Namun saya dan suami belum menemukan produk yang menjadi komoditas. Saat berkeliling mencari lapak tadi, saya memperhatikan lapak apa saja yang ramai dikunjungi dan barang apa yang sepi pembeli. Diskusi Saya dan suamipun mengalir lancar dan menyenangkan. Kami saling menyampaikan gagasan demi gagasan yang diinginkan hingga menemukan satu titik temu untuk produk apa yang akan kami ciptakan lengkap dengan spesifikasi produknya. 

Sepulang dari lokasi pasar kaget, kami langsung take action mengumpulkan informasi tentang produk yang akan kami buat. Saat itu, saya merasa sangat bersemangat dan tampaknya diskusi dalam mobil tadi adalah salah satu diskusi terbaik dan sangat produktif yang pernah ada pada saya dan suami. 

———————————–○★○——————————

#hari3 #gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip